Oleh: Pemuda Sukses | November 4, 2011

Bacaan Dzikir beserta Keutamaan dan Keistimewaannya

Bacaan dzikir setelah shalat fardhu sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.(Disunnahkan dzikir setelah shalat fardhu).

 

Astaghfirullah al’adzim (3x)

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung”
Allahumma antas-salam waminkas-salam tabarakta ya dzal jalali wal-ikram

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari pada Mu-lah segala Kesejahteraan serta Maha Besar Kabajikan-Mu, Ya Allah Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan”

Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir”

“Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Allahumma laa maani’a limaa ‘a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jadda minkal jaddu.

“Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Subhanallah (33x)

“Maha Suci Allah”
Alhamdulillah (33x)

“Segala puji bagi Allah”
Allahu Akbar (33x)

“Allah Maha Besar”
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir

“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika

“Ya Allah anugerahkanlah pertolongan kepadaku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu).” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i dengan sanad yang kuat”

Ayat Kursi

Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa nauum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi. Man dzal ladzii yasfa’u ‘indahuu illaa bi idznih. Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhithuuna bi syai-in min ‘ilmihii illaa bimaa syaa-a. Wasi’a kursyiyyuhus samaawaati wal ardha. Wa laa yauuduhuu hif zhuhumaa wa huwal ‘aliyyul ‘azhiim.

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa idzin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi (Kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”. (QS: Al-Baqarah : 255)

Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas

Bismillahirohman nirrohim

Qul huwallaahu ahad (1) Allaahush shamad (2) Lam yalid wa lam yuulad (3) Wa lam yakul-lahuu kufuwan ahad (4)

“Katakanlah : “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”. Hanya Allah-lah tempat bergantung. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan -Nya”. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)

Bismillahirohman nirrohim

Qul a’uudzu birabbil falaq (1) Min syarri maa khalaq (2) Wa min syarri ghaa-siqin idzaa waqab (3) Wa min syarrin naffaa-tsaati fil ‘uqad (4) Wa min syarri haasidin idzaa hasad (5)

Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai waktu Subuh”. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan waktu malam, apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dari tali. Dan dari kejahatan orang yang dengki, apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq : 1-5)

Bismillahirohman nirrohim

Qul a’uudzu birabbin naas (1) Malikin naas (2) Ilaahin naas (3) Min syarril waswaasil khannaas (4) Alladzii yuwas-wisu fii shuduurin naas (5) Minal jinnati wan naas (6)

Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan bisikan syaitan yang biasa bersembunyi.
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.”
(QS. An-Naas : 1-6)

 

KEUTAMAAN DAN KEKUATAN BERDZIKIR

Keutamaan berdzikir kepada Allah SWT. di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah :

Keutamaan berdzikir adalah Allah SWT. senantiasa mengingat hamba-hambaNya yang sedang berdzikir kepadaNya, seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Apabila kita senantiasa berdzikir kepada Allah SWT., akan dapat menambah keyakinan, menanamkan keagungan Allah di hati dan kalbu, menambah taqwa, ketaatan, keimanan dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa.

Dzikir merupakan suatu amal yang dicintai Allah SWT., mengingat dan menyebut nama Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperoleh ketentraman batin dan dapat menyelamatkan dari bencana di dunia maupun di akhirat.

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”
(QS. al-A’raaf[7]:205)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”
(QS. al-Baqarah[2]: 152)

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”
(QS. al-Ahzaab [33]:41-42-43)

Tidak ada suatu kaum yang duduk dalam suatu majelis sambil berdzikir kepada Allah, pasti mereka dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat, dan diturunkan kepada mereka ketenangan dan Allah selalu ingat kepada mereka di mana mereka berada.
(HR. Muslim)

Dari Uqbah bin Amir r.a. berkata : “Rasulullah SAW. menyuruh aku membaca surat-surat perlindungan (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas) setiap selesai sholat.”
(HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Dari Abdullah bin Khubaib r.a. berkata : Kami pernah keluar pada malam hujan dan sangat gelap mencari Rasulullah agar beliau berdo’a untuk keselamatan kami, maka aku temukan beliau, lalu beliau bersabda : “Katakanlah.” Aku tidak mengatakan sesuatu apapun, kemudian beliau bersabda lagi : “Katakanlah”, akupun tidak mengatakan sesuatu apapun, lalu beliau bersabda lagi : “Katakanlah.” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab : “Bacalah (Qul huwallaahu ahad dan Qul a’uudzu birabbil falaq serta Qul a’uudzu birabbin naas) ketika kamu berada di waktu petang hari dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya cukup untuk melindungi kamu dari segala sesuatu [yang jahat].” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

KEUTAMAAN & KEISTIMEWAAN AYAT KURSI

Ayat kursi merupakan ayat Al-Qur’an yang paling agung. Membacanya setiap selesai shalat fardhu, menjadikan seseorang dilindungi Allah SWT. sepanjang hari.

Disunnahkan membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, pada dzikir pagi dan sore hari serta sebelum tidur (ketika berbaring di tempat tidur).

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tidak ada yang akan menghalangi memasuki surga kecuali maut.” (HR. Ibnu Sunni)

BACAAN DZIKIR kepada ALLAH SWT.

Barangsiapa membaca tasbih (Subhanallah) pada tiap-tiap selesai sholat, sebanyak 33 kali, membaca hamdalah (Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, dan membaca Allahu Akbar sebanyak 33 kali dan untuk menyempurnakan menjadi 100 membaca : Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka diampunkan dosanya meskipun dosanya sebanyak buih di laut.
(HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : “Aku berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu di hari kiamat nanti?” Jawab beliau Rasulullah SAW. : “Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang bersih.”
(HR. Imam Bukhari)

Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas, maka ia masuk surga. Ditanyakan, “Bagaimana ikhlasnya?” Rasulullah SAW. menjawab,”Yaitu menjadi penghalang kamu dari melakukan yang diharamkan oleh Allah.”
(HR. Thabrani)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) dengan ikhlas hanya untuk Allah, maka dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga ke ‘Arsy selama menjauhi dosa-dosa besar.”
(HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar, dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah mengarunianya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(HR. Ahmad)

Rasulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rezeki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka.”

(HR. Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan, dan amat dicintai oleh Ar-Rahman yaitu : SUBHAANALLAH WA BIHAMDIHI, SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM (Maha Suci Allah dan Maha Terpuji, Maha Suci Allah Yang Maha Agung)”.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Barangsiapa mengucapkan
SUBHAANALLAH WA BIHAMDIHI (Maha Suci Allah dan Maha Terpuji), sebanyak 100 kali dalam satu hari, maka akan diampuni / dihapus dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang membaca “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) sebanyak 10 kali, maka pahalanya bagaikan memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Nabi Ismail.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Bacaan yang paling dicintai Allah SWT. ada empat, yang tidak salah engkau mulai dari mana saja, yaitu : SUBHANALLAH, WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR.

(HR. Muslim)

Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya bacaan : SUBHANALLAH, WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR (Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar), akan menggugurkan dosa-dosa sebagaimana daun-daun yang berguguran dari pohon.”
(HR. Ahmad)

Abu Musa berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda kepadaku : Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang perbendaraan dari surga? Jawabku : “Baiklah ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda yaitu : Laa haula walaa quwwata illa billahi (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah).

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : Barangsiapa membaca “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) sebanyak 100 kali dalam satu hari, maka dia sama dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dia dipastikan mendapat seratus kebaikan, dan akan dihapus dari padanya seratus kesalahan, serta dia akan dipelihara dari gangguan setan pada hari itu hingga petang, dan tidaklah seseorang akan mendapatkan yang lebih baik dari itu, kecuali ada seseorang yang mengamalkan lebih banyak lagi.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah Yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laa Ilaaha Illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.”

(HR. Ad-Dailami)

Rasulullah SAW. bersabda “Sanggupkah kalian mengerjakan seribu kebajikan setiap hari? Maka bertanya salah seorang diantara yang duduk dalam mejelis kepada beliau : Bagaimana caranya kami mengerjakan seribu kebajikan setiap hari? Jawab beliau : “Bacalah tasbih (Subhanallah) 100 kali, niscaya baginya akan dicatat seribu kebajikan, atau dihapus daripadanya seribu kesalahan.”

(HR. Muslim)

Dari Juwairiyah ummul mukminin r.a. : Sesungguhnya Nabi SAW. pernah keluar dari rumahnya pagi-pagi setelah selesai shalat Shubuh, sedangkan dia (Juwairiyah) masih berada di tempat shalatnya. Kemudian Nabi SAW. kembali sesudah shalat Dhuha, sedangkan Juwairiyah masih tetap duduk ditempatnya itu. Lalu beliau bertanya : “Apakah engkau tetap pada tempatmu itu sejak kutinggalkan tadi ?” Juwairiyah menjawab : “Betul”. Lalu Nabi SAW. bersabda : “Sungguh sesudah darimu tadi aku hanya membaca empat kalimat sebanyak tiga kali, yang andaikata ditimbang dengan apa yang telah engkau baca dalam dzikirmu semenjak pagi tadi niscaya akan seimbang. Kalimat itu ialah : Subhaanallahi wabihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridhaa nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatihi (Maha Suci Allah dan Maha Terpuji sebanyak bilangan makhluk-Nya, dan sebanyak yang diridhai oleh diri-Nya, dan seberat Arsy-Nya, dan sebanyak bilangan kalimat-Nya).

(HR. Muslim)

Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Rasulullah SAW. berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (dzikrullah).”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 


Responses

  1. Sungguh lebih bagus lagi akhi kalau dicantumkan dari mana antum mengambil hadits diatas, mohon ma’af sebelumnya.

  2. Thanks atas infonya

  3. Sangat bermamfaat sekali

  4. KALIMAT TAUHID YANG BERMANFAAT BAGI YANG MENGUCAPKANNYA

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Tanya:
    Apakah setiap orang yang akhir hayatnya mengucapkan kalimat tauhid teranggap ahlu tauhid?.

    Jawab:
    Dilihat pada amalannya, Fir’aun sebelum meninggal mengucapkan keimanan dan mengucapkan kalimat tauhid, namun tidak bermanfaat baginya, sebagaimana Alloh Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an pada surat Yunus,
    dan Alloh katakan tentangnya:

    وقد عصيت قبل وكنت من المفسدين

    “Dan sungguh kamu telah berma’siat dari sebelumnya, dan kamu adalah termasuk dari para pembuat kerusakan”.

    Begitu pula para teroris dan para pembuat kerusakan semisal Abdurrohman Muljam, walaupun pada awalnya dia adalah termasuk penghafal Al-Qur’an dan ‘alim, yang disenangi oleh Amirul Mu’minin Umar Ibnul Khoththob, hingga diutus ke Mesir, namun karena dia menghalalkan darah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib dan berhasil menghunuskan pedangnya kepada Ali hingga melangkahi jenazahnya, ketika dijatuhkan hukuman mati oleh Al-Hasan bin Ali, maka orang mufsid tersebut menyarankan untuk tidak membunuhnya dengan sekali bunuh, namun minta dibunuh sedikit demi sedikit, dipotong anggota-anggota tubuhnya dan dia dalam keadaan berdzikir dengan terus menerus, dia meminta untuk tidak memotong lisannya sehingga terus berdzikir sampai mati.
    Orang yang tidak memahami ini tentu akan kagum kepadanya.

    Begitu pula para penyembah kubur di zaman ini, mereka sujud ke kubur, memohon kepada penghuni kubur, lafazh-lafazh mereka ketika memohon disisihkan dengan kalimat-kalimat tauhid, namun tidaklah memberikan manfaat kalimat-kalimat tersebut, karena yang bermanfaat hanyalah:

    الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم. …

    “Orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampur keimanan mereka dengan kezholiman…..”.

    Jadi bukanlah ukuran seseorang dikatakan ahlu tauhid kalau dia mengucapkannya, akan tetapi dituntut untuk mewujudkan konsekwensi kalimat tauhid tersebut.

    Seseorang bermanfaat kalimat tauhid yang dia ucapkan bila keadaannya:

    1. Belum sampai kepadanya hujjah sama sekali, dan dia keadaannya seperti yang disebutkan dalam hadits:

    أدركنا آبائنا على هذه الكلمة: لا إله إلا الله فنحن نقولها

    “Kami mendapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat tidak ada sesembahan yang haq melainkan Alloh maka kamipun mengucapkannya”.
    Hudzaifah Ibnul Yaman berkata:

    تنجيهم من النار

    “Diselamatkan mereka dari neraka”. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad shohih.

    2. Belum sempat melaksanakan kewajiban-kewajiban, ya’ni baru masuk Islam, setelah mengucapkannya diapun mati, sebagaimana keadaan seorang remaja Yahudi, karena mentaati Rosul dengan sebab perintah bapaknya: “Taatilah Abul Qosim”, kalimat itupun bermanfaat baginya.
    Ini semisal dengan seseorang yang masuk Islam ketika di medan tempur, mengucapkan kalimat tauhid lalu maju bertempur hingga mati, maka kalimat tauhidnya bermanfaat baginya, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam katakan tentangnya:

    عمله قليل وأجره كبير

    “Amalannya adalah sedikit dan balasan pahalanya adalah banyak”.

    3. Orang yang masuk Islam pada waktu sebelum diturunkannya kewajiban-kewajiban syari’at, mereka adalah para shohabat yang masuk Islam di awal-awal da’wah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

    قولوا لا إله إلا الله تفلحوا

    “Ucapkanlah tidak ada sesembahan yang haq melainkan Alloh”.

    4. Siapa saja yang mengucapkannya sekaligus melaksanakan konsekwensinya, yang Alloh telah sifati mereka sebagaimana sifatnya termaktub di dalam surat Al-Fath:

    محمد رسول الله والذين معه…..

    “Muhammad adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersamanya…….”.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy di Darul Hadits Baihan Sana’a pada tanggal 2 Dzulqo’dah 1435.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: