Oleh: ittemputih | Desember 13, 2011

Perubahan dan Perkembangan Sosial Budaya pada masa Mataram Islam

                                                       BAB I            

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain sebagainya. Ruang lingkup perubahan sosial lebih luas dibandingkan dengan perubahan sosial. Namun, dalam kenyataannya, perubahan sosial dan perubahan budaya sangat sulit untuk dipisahkan.

Perubahan sosial dan perubahan budaya menjangkau seluruh masyarakat mulai dari lapisan masyarakat bawah sampai masyarakat atas, masyarakat sekarang, bahkan masyarakat di masa lampau. Masyarakat di masa lampau yang masih bersifat tradisional pun tetap tidak dapat terlepas dari perubahan sosial budaya. Perubahan sosial budaya yang terjadi di masa lampau mencakup berbagai segi kehidupan masyarakatnya. Mulai dari ideologi, struktur, adat istiadat, dan lain sebagainya.

Perubahan sosial budaya yang terjadi di masa lampau contohnya adalah perubahan sosial budaya yang terjadi pada masa kerajaan Mataram Islam, yaitu masa-masa ketika Islam masuk ke Indonesia. Pada saat itu, ajaran Agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari perkuburan tua di Gresik, yaitu makam Malik Ibrahim, seorang pedagang kaya raya dari Persia yang meninggal tahun 1419. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai perubahan sosial budaya pada masa-masa masuknya Islam di Indonesia, khususnya perubahan sosial budaya yang terjadi di Kerajaan Mataram Islam.

 

  1. B.     RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana awal mula kerajaan Mataram Kuno?
    2. Bagaimana proses masuknya Islam ke Indonesia?
    3. Bagaimana sejarah berdirinya Mataram Islam?
    4. Bagaimana proses perubahan sosial budaya yang terjadi pada masa Mataram Islam?

 

  1. C.    TUJUAN
    1. Menjelaskan awal mula berdirinya kerajaan Mataram Kuno.
    2. Untuk mengetahui bagaimana proses masuknya Islam ke Indonesia.
    3. Untuk mengetahui bagaimana sejarah berdirinya Mataram Islam.
    4. Untuk mengetahui bagaimana proses perubahan sosial budaya yang terjadi pada masa Mataram Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    KERAJAAN MATARAM KUNO

Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M.

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.
Peninggalan bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.

Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.
Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki tahta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke Pulau Sumatra dan menjadi raja Sriwijaya.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala.

  1. B.     MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Islam berasal dari Negara Arab, yang dibawa ke Indonesia oleh para pedagang Persia dan India, sembari melakukan aktivitas berdagangnya. Pertanda masuknya agama Islam dapat dilihat dari perkuburan tua di kota Gresik, yaitu makam Malik Ibrahim, seorang pedagang kaya raya dari Persia yang meninggal pada tahun 1419. Islam mudah mendapatkan tempat karena beberapa keistimewaan yang ditawarkannya, salah satunya adalah tidak ada kasta dalam Islam. Hal ini berbeda dengan agama Hindu atau Budha yang sebelumnnya telah dianut oleh masyarakat.

Pola penyebaran agama Islam terjadi melalui pernikahan. Bila seorang pedagang beragama Islam menikah dengan seorang perempuan pribumi, tentulah si perempuan akan mengikuti agama suaminya. Setelah itu menyusul pula anggota keluarga yang lainnya. Selain itu, bila seorang raja di suatu daerah masuk Islam, akan segera menyusul pula para bawahan dan rakyatnya. Dengan cara demikian, Islam mulai berkembang cepat di Pulau Jawa. Sebagaimana terlihat beberapa raja di Pulau Jawa yang beragama Islam, yaitu Demak, Surabaya, Mataram Islam, dal lain sebagainya.

 

  1. C.    SEJARAH LAHIRNYA MATARAM ISLAM

Pada tahun 1590, panembahan senopati, yang waktu itu bersekutu dengan Surabaya telah menguasai Madiun. Pada tahun 1591, ia mengalahkan Kediri dan Jipang, lalu melanjutkan dengan penaklukan Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598-1599. Sebagai raja Islam, panembahan Senopati melaksanakan penaklukan-penaklukan untuk mewujudkan gagasannya bahwa Mataram harus menjadi pusat budaya dan agam Islam, untuk menggantikan dan melanjutkan Kesultanan Demak.

Kerajaan Mataram Islam sesungguhnya sama sekali tidak berhubungan dengan Kerajaan Mataram dari zaman Hindu-Budha. Kebetulan saja nama yang sama dipakai kembali pada masa Islam berkembang. Pada awal perkembangannya, Kerajaan Mataram Islam adalah sebuah daerah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Letak daerah Kerajaan Mataram adalah daerah Jawa Tengah bagian selatan dengan pusatnya yaitu Kota Gede Yogyakarta. Dari daerah inilah, Kerajaan Mataram terus berkembang hingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan besar dengan wilayah kekuasaannya meliputi daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

  1. D.    PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA YANG TERJADI PADA MASA MATARAM ISLAM
  2. a.    Kebudaya

Prasasti Canggal yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir itu juga menceritakan pendirian lingga (lambang Syiwa) di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Sementara itu, menurut prasasti Kalasan, Raja Panangkaran mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara dan biara untuk pendeta. Raja Panangkaran juga menghadiahkan desa Kalasan untuk para sanggha. Bangunan yang tertera di dalam prasasti Kalasan itu adalah Candi Kalasan. Sementara itu, menurut prasasti Klurak yang ditemukan di Prambanan, Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya membuat arca Manjusri (candi Sewu).

Keberadaan Kerajaan Mataram juga didukung oleh sejumlah bukti berupa candi. Misalnya, kompleks candi di Pegunungan Dieng, Candi Gedong Songo (Jawa Tengah bagian utara), Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sambisari (Jawa Tengah bagian selatan).

. Selain itu dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.

Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya Alam. Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri.

Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek moyang.

  1. b.      Kehidupan Sosial

Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan

  1. c.    Perubahan Sosial Budaya

Budaya yang ada di Indonesia, secara sadar ataupun tidak telah terpengaruh oleh ajaran Islam di seluruh aspek kehidupannya. Pola dasar kebudayaan setempat yang masih sangat tradisional, mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sosial budaya yang dipadukan dengan budaya-budaya Islam. Perpaduan kebudayaan tersebut sering disebut dengan akulturasi kebudayaan seperti yang sering terjadi pada akulturasi seni budaya, aksara atau seni rupa, seni sastra, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya.

Pada masa Sultan Agung berkuasa yaitu antara tahun 1613-1645 Masehi, dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan daerah-daerah persawahan dan memindahkan banyak petani ke daerah Karawang yang subur. Atas dasar kehidupan agraris itulah disusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Para pejabat memperoleh imbalan berupa tanah garapan atau pajak tanah. Sistem kehidupan ini menjadi dasar utama munculnya tuan-tuan tanah di Jawa, misalnya kekuasaaan seorang kepala desa atau lurah yang merasa bahwa daerah kekuasaannya itu sebagai miliknya. Sedangkan kehidupan budaya di masyarakat Mataram Islam yaitu:

  1. Munculnya kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi (perpaduan) antara kebudayaan asli Hindu, Budha, dan Islam.
  2. Munculnya Grebeg Syawal pada hari raya Idul Fitri dan Grebeg Maulud pada bulan Rabiul Awal.
  3. Hitungan tarikh yang sebelumnya tahun 1633 mempergunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh Samsiah) diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh Kamariah).
  4. Kesusasteraan Jawa berkembang dengan pesat berkat suasana yang tentram. Sultan Agung sendiri mengarang kitab Sastra Gending yang serupa kitab filsafat. Kitab-kitab yang lain yaitu Nitisruti, Nitisastra, Astabrata (berisi ajaran tabiat baik, bersumber pada kitab Ramayana dan banyak dibaca oleh masyarakat).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  • KESIMPULAN

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.

Islam berasal dari Negara Arab, yang dibawa ke Indonesia oleh para pedagang Persia dan India, sembari melakukan aktivitas berdagangnya.

Kerajaan Mataram Islam adalah sebuah daerah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Letak daerah Kerajaan Mataram adalah daerah Jawa Tengah bagian selatan dengan pusatnya yaitu Kota Gede Yogyakarta.

Dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.

Masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya.

kehidupan budaya di masyarakat Mataram Islam yaitu:

  1. Munculnya kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan asli Hindu, Budha, dan Islam.
  2. Munculnya Grebeg Syawal.
  3. Hitungan tarikh yang sebelumnya didasarkan peredaran matahari (tarikh Samsiah) diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh Kamariah).
  4. Kesusasteraan Jawa berkembang dengan pesat berkat suasana yang tentram.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Badrika, I wayan. 2000. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum. Jakarta: Erlangga.

Suyono, Capt. R. P. 2003. Peperangan Kerajaan Di Nusatara. Jakarta: PT Grasindo.

http://rudikomarudin.blogspot.com/2010/04/kerajaan-mataram-kuno.html

http://pakyok.wordpress.co

http://gurumuda.com/bse/negara-kerajaan-mataram-kuno#more-3888

 

 


Responses

  1. Kang info nya bagus, izin ngutip yaa


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: