Oleh: ittemputih | November 2, 2011

sosialisasi dan hubungan anak dengan orang tua

  1. SOSIALISASI
    a. Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup, norma, dan nilai sosial yang terdapat  dalam kelompoknya agar dapat berkembang menjadi pribadi yang dapat diterima oleh kelompoknya. Berikut adalah beberapa definisi sosialisasi menurut para ahli.

  • Charlotte Buhler: sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
  • Peter L. Berger: sosialisasi adalah suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
  • Bruce J. Cohen: sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok.

    b. Tujuan Sosialisasi

Sosialisasi sebagai proses sosial mempunyai tujuan, yaitu sebagai berikut:

  • Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan seseorang.
  • Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien.
  • Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik.
  • Membiasakan individu dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.

    c. Tahap-tahap Sosialisasi

George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap:

1. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seseorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini, anak-anak talah mulai kegiatan meniru meski tidak sempurna.

2. Tahap Meniru (Play Stage)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan yang lainnya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anaknya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisim orang lain sudah mulai terbentuk. Kesadaran bahwa dunia social manusia berisikan oyang-orang yang banyak jumlahnya. Sebagian dari orang-orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan pertahanan diri. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other).

3. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)

Pada tahap ini, peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan berkerjasama dengan teman-temannya. Pada tahap ini, lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersama dengan itu, anak mulai memahami bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)

Pada tahap ini, seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat secara luas.

d. Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisayai. Empat agen tersebut adalah sebagai  berikut:
1. Keluarga (kinship)

Agen sosialisasi keluarga adalah mencakup ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah, hal ini disebut dengan keluarga inti. Agen sosialisasi keluarga bias juga dilakukan oleh keluarga dalam arti luas yaitu keluarga yang terdiri atas beberapa keluarga meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi disamping anggota keluarga inti.
2. Teman Bermain

Disebut juga “kelompok sebaya” yang dialami anak setelah ia mampu bepergian ke luar rumah.

  • Sekolah
  • Media Massa
    Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), dan media elektronik (radio, televise, video, film).
  • Agen-agen Lain.
    Misalnya institusi agama, tetangga, organisasi, masyarakat, lingkungan pekerjaan, dan lain sebagainya.

    e. Jenis Sosialisasi
    1. Sosialisasi Primer

Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Dalam sosialisasi primer, peran orang-orang terdekat bagi anak sangatlah penting, sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya. Apapun yang diserap oleh seorang anak pada masa sosialisasi primer akan menjadi cirri mendasar kepribadian anak setelah dewasa.

2. Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Resosialisasi adalah ketika seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan desosialisasi adalah ketika seseorang mengalami pencabutan identitas diri.

2. HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK

Menjalin hubungan dengan anak tidak selalu menjadi hal yang mudah bagi setiap orang tua. Masalah waktu yang kurang banyak menjadi kendala dalam menciptakan komunikasi yang baik. Kedektan antara orang tua dengan anak tidak datang begitu saja melainkan harus diciptakan. Berikut ini adalah beberapa contoh cara untuk mendekatkan hubungan anak dengan orang tua.

  1. Menciptakan kebiasaan atau tradisi dalam membangun kebersamaan. Misalnya: menerapkan kebiasaan mendongeng sebelum anak tidur, pergi bersama di akhir pekan, dan lain sebagainya.
  2. Untuk orang tua yang sama-sama sibuk, usahakan untuk tetap meluangkan waktu bersama anak dan keluarga. Misalnya: bermain bersama, masak bersama, dan lain sebagainya.
  3. Jadikan makan malam bersama sebagai kegiatan wajib bagi anggota keluarga. Duduk bersama di meja makan bisa lebih bermakna ketimbang hal-hal lain dan makin mendekatkan semua anggota keluarga. Kalau makn malam tidak memungkinkan, bisa juga diganti dengan sarapan bersama. Di meja makan kita bisa saling ngobrol, menciptakan pengalaman hari itu, dan sebagainya.
  4. Sesekali, ajak anak membicarakan hal-hal yang memang penting bagi mereka. Tapi jangan hanya bertanya dengan pertanyaan  “benar” atau “salah”. Tanyakan, misalnya  apa yang mereka inginkan untuk mengisi akhir minggu. Anak pasti akan merasa dilibatkan dalam pembicaraan.
  5. Saling mengungkapkan rasa cinta dan sayang antar anggota keluarga.
  6. Dan lain sebagainya.

    3. PERAN KELUARGA SEBAGAI AGEN SOSIALISASI PERTAMA BAGI TUMBUH KEMBANG ANAK

Peran keluarga akan sangat dominan pada saat seorang anak melakukan sosialisasi primernya. Seorang anak pada masa ini masih berada di lingkungan keluarga dan dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, saudara, kakek, nenek, dan sebagainya. Melalui lingkungan itulah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari, serta mengalami proses sosialisasi awal/ primer. Orang tua, saudara, maupun kerabat terdekatnya lazim mencurah perhatian untuk mendidik sang anak, supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang baik dan benar, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya.

Pada saat orang tua dan kerabat terdekat baik secara sadar ataupun tidak sadar melakukan sosialisasi yang biasanya diterapkan melalui kasih sayang, maka atas dasar itulah anak dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti:

  • Nilai ketertiban,  kebendaaan, keakhlakan,  kelestarian, dan seterusnya. Misalnya dapat ditanamkan dengan cara membelikan mainan yang diinginkan, akan tetapi mainan itu harus dipelihara baik-baik agar tidak cepat rusak.
  • Nilai ketertiban dan ketentraman. Dapat dilakukan dengan menanamkan perilaku disiplin dan perilaku bebas yang senantiasa harus diserasikan. Seperti, si anak yang lapar boleh makan dan minum sampai kenyang  pada waktu-waktu tertentu. Anak boleh bermain sepuas-puasnya, akan tetapi dia harus berhenti bermain bila waktu makan telah tiba.

Apabila usia anak meningkat ke umur remaja, maka penanaman nilai-nilai di atas harus tetap diterapkan, hanya saja dengan cara yang berbeda. Karena usia remaja merupakan umur yang dianggap “gawat”, mereka sedang mencari identitas diri. Pada saat itu diperlukan tokoh-tokoh ideal yang pola perilakunya terpuji. Biasanya pertama-tama si anak akan menjauh dari orang-orang terdekatnya yakni orang tua dan kerabat dekat bila idealismenya tidak terpenuhi oleh lingkungan keluarga, maka si anak akan mencari ke lingkungan lain yang belum tentu baik dan benar.

Tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi ditunjang oleh peran serta dari orang tua si anak. Orang tua harus bersikap aktif, peduli, dan melibatkan anak dalam setiap keputusan-keputusan yang menyangkut dengan sang anak. Jika orang tua bersikap dan bertindak semaunya saja tanpa memperhatikan pendapat dari sang anak, biasanya akan muncul berbagai kritikan. Berikut adalah beberapa kritikan yang biasanya muncul dari para remaja/ anak tertuju pada hal-hal, sebagai berikut:

  1. Orang tua terlalu koservatif atau terlalu liberal.
  2. Orang tua hanya memberikan nasihat,tanpa memberikan contoh yang mendukung naihat tersebut.
  3. Orang tua terlalu mementingka pekerjaan di kantor, organisasi dsb.
  4. Orang tua mengutamakan pemenuhan kebutuhan  material belaka.
  5. Orang tua lazimnya mau menangnya sendiri artinya tidak mau menyesuaikan diri dengan kbutuhan dasar remaja yang mungkin berbeda.

Pengaruh Keluarga Terhadap Perkembangan Moral Anak, menurut Papalia dan Old (1987) dalam Hawadi (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap :

  1. Masa Prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
  2. Masa Bayi dan Tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. Saat tatih inilah, anak-anak menuju pada penguasaan bahasa dan motorik serta kemandirian.
  3. Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun, masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah.
  4. Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun, dikenal pula sebagai masa sekolah. Anak-anak telah mampu menerima pendidikan formal dan menyerap berbagai hal yang ada di lingkungannya.
  5. Masa remaja, yaitu rentang usia 12-18 tahun. Saat anak mencari identitas dirinya dan banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya serta berupaya lepas dari kungkungan orang tua.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: