Oleh: ittemputih | Oktober 10, 2011

Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial

Sejarah dan ilmu-ilmu sosial mempunyai hubungan timbal balik.Sejarah diuntungkan oleh ilmu-ilmu sosial ,dan sebaliknya.Dalam sejarah baru,yang memang lahir berkat ilmu-ilmu sosial,penjelasan sejarah didasarkan atas ilmu-ilmu sosial.Belajar sejarah tidak dapat dilepaskan dari belajar ilmu-ilmu sosial,meskipun sejarah punya cara sendiri menghadapi obyeknya.Topik-topik baru terpikirkan,berkat ilmu-ilmu sosial .Meskipun demikian,perlu diingat bahwa sejarah dan ilmu-ilmu sosial berbeda tujuannya.Tujuan sejarah ialah mempelajari hal-hal yang unik,tunggal,idiografis,dan sekali terjadi,sedangkan ilmu-ilmu sosial tertarik kepada yang umum,ajeg,numotetis.dan merupakan pla.Pendekatan sejarah juga berbeda dengan ilmu-ilmu sosial.Sejarah itu diakronis,memanjang dalam waktu,sedangkan ilmu-ilmu sosial itu sinkronis,melebar dalam ruang.Sejarah mementingkan proses,sementara ilmu-ilmu sosial menekankan struktur.

Kegunaan Sejarah untuk Ilmu-ilmu Sosial

Sejarah mempunyai kegunaan unyuk ilmu-ilmu sosial dalam tiga hal:(1)sejarah sebagai kritik terhadap generalisasi ilmu-ilmu sosial,(2) permasalahan sejarah dapat menjadi permasalahan ilmu-ilmu sosial,dan (3) pendekatan sejarah yang bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu sosial yang sinkronis.

Sejarah sebagai kritik terhadap generalisasi ilmu-ulmu sosial

Max Weber(1864-1920) dalam metodologi ilmu-ilmu sosial menggunakan ideal type(tipe yang berlaku abstrak)untuk mempermudah penelitian,yang sangat berguna bagi sejarawan.Namun,ketika kita dihadapkan pada kenyataan historis yang faktual,ternyata tipe ideal itu banyak yang tidak mempunyai dasar faktual.Buku Weber yang terkenal,The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism(dalam bahasa Jerman keluar tahun 1904-1905,dalam terjemahan Iggris 1930),menyatakan bahwa timbulnya kapitalisme ialah karena adanya semangat Protestantisme yang memperkenankan orang untuk menimbun kekayaan,tidak untuk dinikmati,tetapi untuk mengabdi pada Tuhan,Jadi,orang mulai menanam,tetapi untuk  mengabdi pada Tuhan.Jadi,orang mulai menanam dan menanam modal.Permasalahan sejarah dapat menjadi permasalahan ilmu sosial

Untuk Indonesia,banyak tulisan sudah dikerjakan oleh sosiologi pedesaan dengan permasalahan Tanam Paksa.soedjiti Sosrodiharjo sudah menulis tentang struktur masyarakat Jawa dan Loekman Soetrisno tentang perubahan pedesaan,kedua-duanya adalah sosiolog.

            Pendekatan sejarah yang bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu sosial yang sinkronis

            Dua buku Clifford Geertz,agricultural Involution:The Process of Ecological Change in Indonesia dan The Social History of an Indonesian Town,adalah contoh penggunaan pendekatan sejarah antropologi.

Buku pertama,yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.Geertx melakukan analisis atas perubahan ekologi Jawa.Dengan membedakan Indonesia dalam dan Indonesia luar,yang mempunyai ekologi yang berbeda,yaitu sawah dan ladang,Geertz bertanya mengapa Jawa dapat menampung pertambahan penduduk.Kuncinya terletak:karena sejak awal abad ke-19 di Jawa ditanam tebu.Ternyata tebu dapat bersimbiosis dengan padi.Demikianlah,diJawa meskipun ada shared poverty,kemiskinan,tetapi Jawa dapat menampung banayk penduduk.

Dalam buku yang kedua,Geertz melukiskan bahwakota Mojokuto yang ditelitinya berdiri pada abad ke-19 dijalan dimana perusahaan-perusahaan pertanian mulai beroperasi.Kota ini dapat menjadi contoh bagi banyak kota di ujung Jawa Timur,yang merupakan wilayah frontier yang baru dibuka bersamaan dengan pembukaan perkebunan.Penduduk kota-kota itu adealah migran dari tempat-tempat lain yang tenaga kerjanya mengalami tekanan karena Tanam Paksa.

Kedua buku itu menjadi contoh bagaimana sejarah yang lebih menekankan proses dapat membantu ilmu-ilmu sosial yang menekankan stuktur.

Pengaruh ilmu-ilmu sosial pada sejarah dapat kita golongkan kedalam empat macam ,yaitu (1) konsep,(2) teori,(3)permasalahan,dan (4)pendekatan.

Merskipun demikian,penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam sejarah itu bervariasi.Variasi itu ialah (1)yang menolak sama sekali,(2)yang menggunakan secara implisit,dan(3)yang menggunakan secara eksplisit.Tentu saja ada varian campuran dan kekaburan batas.

Yang menolak sama sekali penggunaan ilmu sosial berpendapat:

(1)   Bahwa penggunaan ilmu-ilmu sosial akan berarti hilangnya jati diri sejarah sebagai ilmu yang diakui keberadaannya,jadi sejarah cukup dengan common sense(akal sehat,nalar umum,akal sehat sehari-hari)dan penggunaan dokumen secara kritis.

(2)   Penggunaan ilmu-ilmu sosial hanya akan menjadikan sejarah sebagai ilmu yang tertutup secara   akademis dan personal.Dari sudut pandang akademis,tanpa ilmu-ilmu sosial,sejarah bersifat multidisipliner.Dengan ilmu-ilmu sosial,sejarah akan kehilangan sifat kemandiriannya sebagai the ultimate interdiscplinarian.

Ternyata,tanpa ilmu-ilmu sosial,sejarah dapat ditulis engan baik.Tulisan TaufikAbdullah,Schools and Politics: The Kaum Muda Momvenent in West Sumatra(1927-1933).Hal itu dituliskan dengan kekayaan dokumen,ketelitian,sikap kritis,cerdas,dan retorikayang baik.Jangan sampai penggunaan analisis ilmu-ilmu sosial dipakai untuk menutupi kekurangan retorika.

Adapun penggunaan ilmu-ilmu sosial meliputi:

Konser

Bahasa latin conceptus berarti gagasan atai ide.Sadar atau tidak, sejarawan banyak menggunakan konsep ilmu ilmu sosial.Anhar genggeng dalam desertasi tentang kahar muzakkar menggunakan konsep local polities untuk menerangkan konflik antar golongan di sulawesi selatan. Untuk menjelaskan pribadi kahar muzakkar ia memakan konsep sirik dari ethno psychology yang bereti harga diri atau martabat. Demikianlah, kahar harus pergi merantau karena kerena sirik dan kembali ke sulawesi selatan juga kerena sirik.

Teori

Bahasa yunani theoria berarti, diantaranya, “kaidah yang mendasari suatu gejala, yang melalui verifikasi”;ini berbeda dengan hipotesis(Webster’sNew Twentieth Century Dictionary).

T.Ibrahim Alfian dalam buku perang di jalan Allah menerangkan perang aceh dengan teori collective behavior dari Neil J.Smelser. Dalam teori itu diterangkan bahwa perilaku kolektif dapat timbul, melalui dua syarat, yaitu ketegangan struktural (structural strain) dan keyakinan yang tersebar (generalized belief).

Permasalahan

Dalam sejarah banyak sekali permasalahan ilmu-ilmu sosial yang dapat diangkat jadi topik-topik penelitian sejarah. Soal seperti mobilitas sosial, kriminalitas, migrasi, gerakan petani, budaya istana, kebangkitan kelas menengah dan sebagainya.

Pendekatan

Sebenarnya, semua tulisan sejarah yang melibatkan penelitian suatu gejala sejarah dengan jangka yang relatif panjang (aspek diakronis) dan yang melibatkan penelitian aspek ekonomi, masyarakat, atau politik (aspek sinkronis) pastilah memakai juga pendekatan ilmu-ilmu sosial.

Pemakaian yang implisit ialah tulisan soegijanto padmo.Tulisan yang membicarakan penanaman  tembakau dan pengaruhnya pada ekonomi dan masyarakat itu memakai pendekatan ilmu-ilmu sosial sehingga tulisan itu bisa kita masukkan dalam sejarah sosial.

Di bawah ini akan diberikan contoh, bagaimana ilmu-ilmu sosial berguna untuk sejarah. Bagi tiap ilmu akan diberikan tiga kasus fiktif, sekedar sebagaimana gambaran bagaimana ilmu-ilmu sosial memperkaya sejarah.

 

Sosiologi. Spesialisasi dalam sosiologi, seperti sosiologi keluarga, sosiologi desa, dan sosiologi kota; teori-teori sosiologi, seperti stratifikasi, revolusi, kekuasaan; konsep-konsep sosiologi, seperti mobilitas sosial, perubahan sosial, dan solidaritas; semuanya perlu dikuasai untuk menulis sejarah sosial.

Latar belakang: Dari buku Mitsuo Nakamura, The crescent Arises Over the banyan Trees, kita tahu bahwa keluarga, banu, di kota gede sebelum perang selalu menjadi wiraswasta. Tetapi kemudian mengalami priyayinisasi, menjadi pegawai.

Judul:”Banu Amir dari kota Gede, 1910-1990”

Permasalahan: Ini termasuk sejarah keluarga. Dengan melacak sebuah keluarga yang banyak anggotanya dan dalam waktu yang relatif panjang, setidaknya kita perlu berharap menjangkau empat generasi. Dengan empat generasi itu kita akan dapat gambaran mengenai kota gede, terutama soal bagaimana orang tumbuh. Jadi, pertanyaannya benarkah ada priyayinisasi?

Sumber: (1) Sejarah lisan; (2) Foto; (3) Bangunan; (4) Surat-surat; (5) Arsip Keraton, Belanda

Ilmu politik. Dalam ilmu politik diantaranya ada istilah-istilah political culture, organisasi, sistem politik, demokrasi, konstitusi, bargaining, birokrasi, karisma, dan petron-client, kepemimpinan, dan korupsi.

Latar belakang: NU yang pada dasarnya adalah organisasi dakwah, sebelum dan sesudah kembali ke khittah 1926, ada saja orang yang cenderung pada politik praktis, baik yang dulu bergabung dengan PPP, GOLKAR  dan PDI.

Judul:”Para Penyeberang Biografi Kolektif K.H. Sjansuri Badawi, K.H. Musta’in Romly, Chalid Mawardi, dan K.H Abdul Choliq Murod”.

Permasalahan: Mana dakwah yang lebih efektif, melalui politik praktis ataukah dakwah murni?

Sumber: (1) Interviu dengan orang-orang yang dimaksud, dan orang-orang disekitarnya; (2) Dokumen-dokumen OPP.

Antropologi Disini akan ditekan pada symbolic anthropology meskipun ada social anthropology, political anthropology, dan economic anthropology. Konsep-konsep yang perlu di ketahui, diantaranya ialah simbol, sistem kepercayaan, folklore, tradisi besar, tradisi kecil, enkulturasi, inkulturasi, primitif dan agraris.

Latar belakang: Membaca novel hamka, Merantau ke Deli, kita akan terpikir tempat yang maju sebelum perang itu juga tempat pertemuan antar suku.

Judul:”Medan, 1920-1942”.

Permasalahan: Di medan bertemu suku bangsa-suku bangsa: Melayu, Minang kabau, Minadiling, Batak, dan Jawa. Masing masing membawa jatidiri suku. Mereka membentuk melting pot, atau ada segregation, atau masyarakat plural? Ditambah lagi orang asing: Belanda dan Cina. Konflik etnis dan rasial?

Sumber: (1) Arsip; (2) Koran dan Penerbitan lain; (3) Bangunan.

Ekonomi. Ada pertanyaan, siapakah yang berhak menulis sejarah ekonomi: ekonomi atau sejarawan? Jawabnya ialah siapa saja – termasuk orang diluar dua disiplin itu—yang menguasai kaidah-kaidah penelitian ekonomi dan sejarah sejarawan yang akan melakukan penulisan sejarah ekonomi, harus menguasai konsep-konsep seperti ekonomi mikro, ekonomi pembangunan, pemasaran inflasi, devaluasi, agio, upah, gaji, biaya, bunga, nilai tambah, harga, dan sewa harus dikuasai.

Latar belakang: Pada 1905 roti dalam kaleng menjadi suguhan para priyayi. Ini dapat kita baca dalam Serat rijanto karanganh R.B. soelardi ketika ibu rijanto menyuguh tamunya. Karangan itu diterbitkan pada tahun 1920, tetapi ada yang menyebutkan pada tahun1913, tetapi menceritakan peristiwa sekitar 1905.

Judul: “Makanan kaleng: sejarah penyebaran dan fabrikasinya”.

Permasalahan: Roti dalam kaleng mula-mula di impor sebagai makanan jadi. Kemudian roti kering itu diproduksi di indonesia. Tetapi, belum diketahui waktu dan tempat pabrik roti itu didirikan. Bagaimana mata rantai pengedarnya?

Sumber: (1) Koran; (2) Penerbitan lai; (3) Sejarah islam.

About these ads

Responses

  1. sinkronis itu bagaimana? tidak hanya artinya tp maksudnya? bnyak penjelasan yg masih membingungkan dan sulit dimengerti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: